Di Balik Harga Murah: Kesadaran Konsumen dan Risiko Kesehatan

 

Kepadatan pengunjung di salah satu toko thrifting di Jl. Ngagel Rejo, Kec. Wonokromo, Surabaya

Deretan pakaian menggantung rapat di sebuah lapak kecil di sudut Surabaya Timur. Warna-warninya beragam, dari jaket denim lusuh hingga hoodie tebal berwarna gelap yang tampak masih layak dikenakan. Bau khas kain lama bercampur dengan aroma sabun cuci yang samar. Di antara huru-hara pembeli yang membolak-balik hanger, Mbak Rani berdiri sambil sesekali mengelus bahan pakaian yang menarik perhatiannya.

 

Rani bukan pemburu thrift yang datang setiap minggu. Ia hanya mampir ke lapak pakaian bekas saat membutuhkan busana untuk acara tertentu. Pernikahan teman, wisuda saudara, atau sekadar ingin tampil berbeda tanpa harus menguras dompet.

 

“Harganya lebih terjangkau dan modelnya tidak pasaran,” ujarnya, seolah menemukan kepuasan kecil ketika berhasil mendapatkan pakaian yang terasa “unik”.

 

Bagi Rani, thrifting bukan sekadar soal murah. Ada sensasi menemukan barang yang tidak diproduksi massal, sesuatu yang membuatnya merasa lebih personal. Namun, di balik kegembiraan itu, ia menyimpan kehati-hatian yang tidak kecil.

 

Isu kesehatan yang kerap dikaitkan dengan pakaian bekas impor membuat Rani tidak pernah gegabah. Ia mengaku sering mendengar cerita tentang penyakit kulit yang diduga berasal dari pakaian bekas yang tidak higienis. Karena itu, setiap baju yang dibelinya tidak pernah langsung dikenakan.

 

“Biasanya saya rendam dulu, pakai air panas, habis itu dicuci beberapa kali,” katanya. Mencuci itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan. Bagi Rani, langkah sederhana tersebut adalah cara untuk menenangkan diri dari risiko yang mungkin muncul.

 

Kesadaran semacam itu perlahan tumbuh di kalangan pembeli thrift. Di tengah maraknya lapak pakaian bekas, konsumen mulai belajar bahwa harga murah dan model menarik tetap harus diimbangi dengan perhatian pada kesehatan. Tidak semua pembeli memiliki pemahaman yang sama, namun pengalaman dan informasi dari media sosial ikut membentuk sikap yang lebih waspada.

 

Di balik lapak sederhana tempat Rani berbelanja, Pak Romi berdiri sambil merapikan tumpukan pakaian yang baru disortir. Pria 45 tahun itu telah hampir lima tahun mengandalkan penjualan pakaian bekas sebagai sumber penghidupan. Setiap bal pakaian yang datang menjadi tantangan tersendiri, menyaring mana yang masih pantas jual dan mana yang harus disingkirkan.

 

“Kalau kotor sekali atau bau, ya tidak saya keluarkan,” kata Romi. Baginya, kepercayaan pembeli adalah modal utama untuk bertahan. Ia menyadari betul bahwa stigma pakaian bekas sering kali berkaitan dengan kebersihan.

 

Romi tidak menyangkal bahwa pakaian yang ia jual berasal dari pemasok yang lebih besar. Ia hanya pedagang kecil di ujung rantai distribusi. Namun, sebisa mungkin, ia memastikan barang yang sampai ke tangan pembeli dalam kondisi layak.

 

“Pembeli sekarang sudah pintar. Kalau sekali kecewa, bisa tidak balik lagi,” ujarnya.

 

Fenomena thrifting di Surabaya memang tidak bisa dilepaskan dari realitas ekonomi. Pakaian bekas impor menawarkan alternatif di tengah harga pakaian baru yang terus naik. Di sisi lain, pemerintah telah melarang impor pakaian bekas karena alasan kesehatan dan perlindungan industri tekstil dalam negeri. Dua kepentingan ini bertemu di lapangan, tepat di antara pedagang kecil dan pembeli seperti Rani.

 

Bagi Romi, larangan tersebut adalah isu besar yang terasa jauh dari lapaknya yang sederhana. Yang ia hadapi setiap hari adalah kebutuhan membayar sewa, memenuhi kebutuhan keluarga, dan menjaga lapaknya tetap ramai.

 

“Saya cuma jualan. Soal barang masuk dari mana, itu di luar kemampuan saya,” katanya lirih.

 

Cerita Rani dan Romi memperlihatkan wajah thrifting yang lebih manusiawi. Di satu sisi ada pembeli yang ingin tampil pantas dengan biaya terjangkau, di sisi lain ada pedagang yang berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri. Keduanya bertemu di ruang abu-abu antara kebutuhan, risiko, dan keterbatasan.

 

Fenomena ini pada akhirnya tidak hanya berbicara soal tren dan gaya hidup. Thrifting menjadi cermin kesadaran konsumen yang perlahan tumbuh, tanggung jawab penjual dalam menjaga kualitas barang, serta pentingnya edukasi publik agar aktivitas jual beli pakaian bekas tetap aman.

 

Di lapak kecil itu, Rani akhirnya memilih satu blus berwarna krem. Ia menyerahkannya kepada Romi, lalu tersenyum kecil. Di tangannya, pakaian bekas itu bukan sekadar kain lama, melainkan bagian dari cerita tentang pilihan, kehati-hatian, dan realitas hidup di kota besar.

 

Sementara itu, tumpukan baju di lapak Romi masih menggunung. Selama permintaan ada dan kebutuhan hidup berjalan, cerita thrifting akan terus berulang tentang mereka yang mencari, mereka yang menjual, dan upaya sederhana agar semua tetap berjalan dengan aman dan manusiawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahasiswi UBHARA Sampaikan Informasi Perguruan Tinggi ke MA Darul Ulum Waru

Melestarikan Pencak Silat sebagai Warisan Budaya

Mahasiswi Putri Coba Tantangan Sehari Tanpa Gadget, Temukan Ketenangan di Dunia Nyata